2009/10/05 pada 9:24 pm (Informasi Ringan)
Tags: Gempa Bumi, Padang

Assalamu’alaikum…
Salam jumpa kembali sahabatku semuanya…!!
Pertama sekali aku mau menyampaikan rasa duka yang sangat mendalam kepada para korban bencana Gempa Bumi dahsyat yang kembali melanda ‘Ranah Minang‘. Semoga para korban yang meninggal dunia diterima disisi Allah SWT dan bagi keluarga yang ditinggalkan diberi kesabaran dan ketabahan.. dan tidak lupa untuk mendoakan kesembuhan bagi korban yang luka akibat bencana gempa bumi tersebut..
Sahabat…
Sepeti yang telah kita ketahui bersama, bahwa pada tanggal 30 September 2009 telah terjadi gempa bumi tektonik berkekuatan 7,6 SR yang berpusat sekitar 57KM sebelah barat Pariaman yang bekedalaman 71 KM dibawah permukaan laut.
Gempa dahsyat yang belangsung selama kuang lebih 1 Menit tesebut telah memporak porandakan kota Padang, Kota Pariaman, Kabupaten Padang Pariaman, Kabupaten Agam dan daerah lainnya di Sumatera Barat, yang berakibat kerugian yang sangat besar. Korban jiwa yang tehitung hingga saat ini telah menembus lebih dari 650 Orang, serta dipekirakan yang masih hilang sekitar 350 orang lagi. belum lagi korban luka-luka parah yang kebanyakan patah tulang.
Kedahsyatan gempa tersebut benar-benar menimbulkan tauma mendalam bagi semua masyarakat Sumatera Barat, termasuk aku. Karena pada saat gempa belangsung, aku berada di kota padang dan menyaksikan sendiri kehancuran yang terjadi tepat di depan mata..!!
Sahabat, inilah kisah pahit yang kualami dikala gempa bumi 7,6 SR yang mengguncang kota Padang dansekitarnya..
Berawal pada pukul 15.00 WIB, saat itu aku masih berada di kosan yang teletak di jalan Anduring dan hendak berangkat ke kampus yang terletak di jalan Perintis Kemedekaan untuk mengikuti kuliah pada pukul 16.00 WIB. pada saat itu, aku merasakan suatu yan aneh, aku merasa begitu malas untuk berangkat ke kampus, dan sempat membuat status di Facebook yang mengatakan keenggananku untuk berangkat ke kampus.
Namun, karena paksaan dari salah seorang sahabat, akhirnya aku berangkat juga ke kampus. Sesampainya di kampus, aku langsung mengikuti pekuliahan sepeti biasanya. hingga pada pukul 17.16 WIB, getaran gempa itu terasa.
Sekitar 2 atau 3 detik, getaran terasa belum begitu kuat, aku dan semua mahasiswa seta dosen yang berada di dalam lokal pun berhamburan keluar, namun beberapa detik kemudian, ketikat aku mencapai pintu keluar, getaran berlanjut dengan dahsyatnya sehingga menghempaskanku ke dinding.. Semakin keras yang menyebabkan aku dan beberapa orang lainnya kembali terhempas dan tidak bisa berdiri..
Belum lagi reda getaran gempa tersebut, aku segera berlari menuju area parkir untuk mengambil sepeda motor, dengan niat melarikan diri menuju daerah yang tinggi untuk menghindari kemungkinan tsunami. dan apa yang kulihat di parkiran sungguh membuatku semakin kalut, semua orang beteriak, menangis begitu ketakutan. Beberapa bangunan di sekitar kampus telihat ada yang hancur dan Sepeda motor yang diparkir di area parkir, semuanya roboh. Tanpa pikir panjang lagi, aku segera menarik sepeda motor dan menyalakannya, sesaat kemudian aku membawanya keluar kampus menuju jalan raya.
Sesampainya di jalan raya, aku mencoba menghubungi adik kandungku yang juga berada di kota padang, tepatnya di kawasan Kampus UNP yang sangat dekat dengan bibir pantai. Namun, jaringan komunikasi telah terputus sehingga aku sama sekali tidak bisa menghubunginya.
Belum habis rasa panik yang melanda, di seberang jalan, aku melihat kobaran api yang cukup besar di salah satu dapur sebuah rumah. Teriakan histeris ibu yang punya rumah yang meminta tolong seakan tidak tedengar lagi, karena terhimpit dengan kegalauan suara tangisan, teriakan dan alarm mobil.
Pikiranku pun semakin tak menentu, bimbang memikirkan keselamatan nasib sang adik tercinta. Namun, disaat itu aku yakin bahwa seandainya dia selamat dari reruntuhan, dia pasti akan menyusulku menuju rumah kosku yang terletak jauh dari bibir pantai.
Dengan terus berdoa dan berdzikir, aku memacu sepeda motorku menuju kost, namun apa daya, kemacetan sontak terjadi di jalanan yang kulalui. beberapa puluh meter dari kampus aku sampai di depan Rumah Sakit Dr.M. Djamil, dan terlihat dengan jelas beberapa gedung yang runtuh.
Sekitar 20 menit berselang terjebak di kemacetan, gempa menggoyang dan kembali kepanikan melanda semua warga.. kesemrawutan dan kekacauan tak tehindarkan lagi…!!
Selanjutnya, aku sampai jalan Sawahan, dimana pemandangan mengerikan terlihat begitu nyata. Ruko-ruko dan gedung-gedung betingkat roboh dan hancur berantakan.. di pinggir jalan, aku melihat beberapa korban yang terluka dengan darah menyelimuti wajah serta badan mereka… Allahuakbar… Allahuakbar…!! sungguh pemandangan yang sangat memiriskan hati…!!
Begitu mengerikan dan sangat menakutkan.. melihat aura kepanikan, ketakutan, teriakan dan tangisan serta pekikan minta tolong dan kesakitan dari para korban.. jujur, aku sendiri tak kuasa untuk berbuat apa-apa.. yang kulakukan saat itu adalah terus berlari dengan pikiran penuh rasa cemas.
Sekitar 45 menit, akhirnya aku sampai di rumah kos. aku mulai sedikit lega, karena adik sepupuku yang satu kos denganku selamat beserta beberapa sahabat yang lainnya..
Sesaat kemudian, aku mencoba kembali menghubungi adikku melalui ponsel, namun tetap tidak menyambung, begitu juga dengan kedua orang tuaku di Bukittiggi. Akhirnya, aku pasrah, dan berharap serta berdoa akan keselamatan adikku dan orang tuaku.
Setelah sholat magrib, aku beserta adik sepupu dan sahabat-sahabat lainnya, segera membuat tenda pengungsian sementara di depan teras kos. dan mencari segala keperluan seperti bahan makanan instan, minuman instan dan lilin sebagai penerangan karena lampu mati.
Sekitar pukul 21.30. perasaan haru memenuhi relung hatiku, karena adik kandungku datang dengan terengah-engah berlarian menuju kos ku bersama dengan enam orang sahabatnya.. Alhamdulillah.. adikku selamat, walau mengalami lecet sedikit di kaki.
Akhirnya, pada malam itu kami semua berkumpul di teras kos dengan masih dihantui perasaan kalut karena gempa.
Untuk mengetahui informasi gempa, aku pun menyalakan TV dan Radio melalui Handphone, dan akupun mendapatkan informasi bahwa gempa berpusat 57 KM barat daya Pariaman dengan kekuatan 7,6 SR, dan tidak berpotensi tsunami.
Sekitar pukul 02.00 dini hari, aku bersama salah seorang sahabat, mencoba melihat keadaan di sekitar kota padang, dan dimana-mana aku melihat mobil Ambulance lalu lalang membawa korban, baik itu yang luka parah, ataupun yang sudah meninggal dunia.. hanya satu kalimat yang terlontar di bibirku Innalilahi wa inna illaihi Rajiuun..!!
Yaaah.. begitulah sahabat, pengalaman pahit yang benar-benar kualami dikala bencana gempa bumi dahsyat yang melanda Sumatera barat.. semoga kita semua bisa mengambil hikmah yang terkandung dibalik semua ini. dan semoga kita bisa sabar, tabah dan ikhlas akan semua kehendak dari Allah SWT…!!
Berikut aku akan menampilkan beberapa Foto kerusakan bangunan yang diakibatkan oleh Gempa bumi di padang.
Rumah salah seorang sahabatku yang bernama Arif Budiawan, yang awalnya bangunan ini berbentuk Ruko tiga lantai, sekarang rata dengan tanah
Kondisi Hotel Ambacang sesudah gempa bumi, terlihat dari bagian depan.
Salah satu rumah warga yang juga hancur akibat gempa
Kondisi Plasa Andalas setelah dilanda kebakaran akibat gempa bumi.
Sahabat-sahabat yang kusayangi, aku berharap bantuan berbentuk apapun juga untuk meringankan beban dan penderitaan para korban gempa bumi.. Dan mari kita berdoa semoga Arwah para korban yang meninggal dunia diterima disisi Allah SWT serta korban yang masih hidup diberi kesabaran dan ketabahan dalam menghadapi ujian dari Allah ini… Amiin..!!
Wassalam