MENJELAJAH AKHERAT DIALAM FANA
Mungkin kita binggung bahwa alam akhirat kok dijelajahi pada saat kita masih hidup dialam fana ini . Dan , kebingungan inipun wajar . Karena, hal ini kontradiksi dengan kenyataan hidup dan pengertian kita tentang akhirat selama ini. Pada umumnya kita ini berkeyakinan bahwa yang dimaksud dengan akhirat itu adalah alam yang keberadaannya dibalik kematian .Alam yang baru akan dimasuki setelah kita mati dan dunia ini berakhir . Dengan kata lain , alam akhirat iyalah alam yang akan datang yang baru ada setelah dunia ini mengalami pralaya atau “kiamat”.
Mungkin ada yang salah di benak kita . Ya , kita ini berdoa agar dikaruniai Tuhan kesejahteraan hidup di akhirat , tapi kita sendiri tidak tahu akhirat . Bagaimana kita meminta sesuatu yang tidak kita ketahui ? Mungkin , kita beranggapan bahwa Tuhan senantiasa mengerti tentang apa yang diminta hamba-hamba Nya . Lho , Tuhan itu Maha Mengetahui dan Maha Mendengarkan ! Tetapi , kalau kita meminta sesuatu yang tidak kita mengerti, maka setelah kita dikabulkan pun kita tidak akan mengerti apa yang kita terima itu . Bayangkan , kita minta pada seseorang kamera digital yang kita sendiri tidak mengetahui apa yang kita minta itu . Kita cuma mendengar bahwa ada kamera digital . Lalu , kita diberi . Lho apa kita ya bahagia dengan pemberian itu ? Apa ya ada gunanya pemberian itu ?
Makna akhirat .
Kita perlu menengok kembali makna “akhirat” .Jangan jangan kita ini salah paham terhadap pengertian akherat .Dibawah ini akan saya kutib ayat Al-Quran yang menyebutkan kata akhirat. Dan, pemahaman berikut ini akan bersesuaian dengan pemahaman mistik di berbagai macam agama.
“Janji yang sebenar-benarnya dari Allah. Dia tidak menyalahi janjiNya . Akan tetapi, sebagian besar manusia tidak mengetahui (janji-Nya) . Mereka hanya mengetahui hal-hal yang tampak dari kehidupan dunia ini , sedangkan yang ” akhirat “ mereka lupakan , “( QS Ar-Rum [30]:6-7).
Pertama, ada janji Allah. Janji merupakan pernyataan yang dipakai sebagai pegangan ! Tentunya , manusia menerima janji itu langsung dari yang berjanji dengan dirinya . Kalau sudah dari orang lain, itu sih namanya bukan janji . Itu baru “katanya” . Tentu , Tuhan telah berjanji kepada setiap orang . Tetapi, sebagian manusia tidak mengetahui janji-Nya itu. Mengapa? Karena , janji Tuhan itu termasuk alam yang tak tampak. Janji Tuhan itu tidak dalam bentuk huruf maupun suara.
Sebagian besar manusia benar-benar telah meninggalkan alam rahim yang gelab itu menuju alam lahiriyah yang serba tampak . Padahal , janji Tuhan yang tampa huruf dan suara itu ada didalam alam yang tak tampak . Janji Tuhan itu ada dialam batin atau inner self. Selama manusia meninggalkan alam batinnya , maka ia tidak akan mengetahui janji tersebut.
Janji Tuhan itu benar adanya . Pertumbuhan dan perkembangan manusia dari bayi hingga tua renta itu merupakan janji Tuhan. Janji yang ditampakkan dialam lahiriah. Di manakah adanya janji Tuhan di alam nyata ini? Ya, didalam proses penciptaan yang dapat kita amati sehari-hari. Bukankah manusia ini tidak sekadar produk penciptaan ? Manusia mengalami fase penyempurnaan diri, baik lahiriah maupun batiniah . Ada kadar untuk tumbuh dan berkembang . Ada potensi untuk menyempurnakan diri. Dan, ada arah untuk menuju ke kehidupan yang lebih baik . Dalam bahasa agama , ada “petunjuk Tuhan” untuk kehidupan manusia .
Kedua, sebagian besar manusia hanya “mengetahui” yang tampak saja dari kehidupan dunia . Semenjak manusia terpikat oleh keberadaan dari dunia eksternalnya, indra lahiriah manusia semakin menonjol peranannya . Seiring dengan menguatnya peranan indra lahiriah , semakin melemahlah peranan indra batinnya seperti naluri dan intuisi. Peranan lahir semakin bertambah , maka peranan batin semakin berkurang atau bahkan malah hilang. Akibatnya, manusia kehilangan arah dalam mengarungi hidupnya. Manusia merasa bahwa yang menentukan arah hidupnya adalah dunia diluar dirinya. Manusia merasa bahwa keindahan itu diluar dirinya. Bahwa kebahagiaan itu berasal dari dunia diluar dirinya . Makanya , manusia mengejar kebahagiaan yang ada diluar dirinya . Apa salah ? Tentu saja, tidak . Tetapi , ini tidak sepenuhnya benar! …….
Mengapa terjadi perasaan jenuh , bosan , atau putus asa dalam hidup ini? Karena pemandu yang ada didalam diri kita tidak berfungsi . Bila pemandu tersebut ditinggalkan, maka fungsi akan meredup . Naluri atau insting menjadi tumpul. Intuisi tak kunjung datang . Sedangkan dunia eksternal menjadi hal yang rutin . Maka , hasilnya adalah kebosanan. Jika, dunia luar tak bisa diraih dan menekan kehidupan , maka hasilnya adalah keputusasaan.
Ketiga, melalaikan akhirat . Nah, kalau kita menyimak dengan seksama ayat tersebut , ternyata ” yang tampak” dari dunia ini dilawankan dengan “akhirat”. Dus , makna akhirat sejatinya adalah keberadaan batin dalam hidup ini. Dan, makna inilah yang terbanyak kita temui di dalam Ai-Quran. Ternyata, akhirat lebih terkait dengan kenyataan kekinian daripada alam lain yang akan terjadi setelah dunia ini pralaya. ……. sudahi aja yang baca keburu bosen habis masih panjang ……..














