MAKNA IBADAH KORBAN-Nabi Ibrahim a.s. Meneladani

Pada  hari-hari  ini  kaum Muslim diseluruh  penjuruh  dunia  mengumandangkan  takbir, tahlil, dan  tahmid. Kita  besarkan  namaNya .  Maka  hendaknya  kita  mengumandangkannya  dari  lubuk  hati  terdalam  dan  bukan  hanya  keluar  dari  bibir  semata.

Saudara-saudara , bangsa  Indonesia  baru  saja   tertimpa  bencana  yang  luar  biasa  dahsyatnya. Bencana yang  menelan  korban   beratus  ribu  jiwa .Muslim  atau  kafir  ,  mukmin atau  musiryk, sama-sama  ditelan  oleh  bencana  itu. Bencana  yang  tidak  pilih-pilih  siapa  korbannya.  Dan ,  bencana   itupun  bukan  satu-satunya  bencana  yang  terjadi  . Banyak  bencana  yang  terjadi  ,  namun  kita  tak  pernah   mau  menyadari.  Kita  tetap  mengutamakan   hawa  nafsu  sendiri.  Sedangkan  memperturutkan  hawa  nafsu  adalah  pembatalan  tauhid.  Kita  mungkin  merasa  ikut  terharu  mendengarkan  lagu “bencana”, tapi  lebih  merasa  ngeri  setelah  menyaksikan  sendiri  bencana  yang  melanda  Aceh , Jogya , Sumbar  ,  dan  didaerah  lain  di televisi .  Dan  ,  kita   yang  di sini pun  tidak  aman  100%  dari  bencana  sedahsyat  itu.

Pada  kesempatan  Idul  Adha ini, marilah  kita  menyimak  kembali  prinsip  hidup  bertauhid   yang  pernah  diteladankan  oleh  nabi  Ibrahim a.s.  Prinsip  ini  ada  di dalam  doa  Nabi  Ibrahim a.s.  yang  direkam  oleh  Al-Quran  pada  surah  Ibrahim  ayat  35- 39  sebagai  berikut.

Dan  ketika  Ibrahim  berdoa :” ya  Tuhanku, jadikanlah  negri  ini  sebagai  negri  yang  aman , dan  jauhkanlah aku  beserta  anak-cucuku  dari  peyembahan   kepada  berhala.

Ya  Tuhanku ,  sesungguhnya  berhala-berhala itu  telah  menyesatkan  banyak  manusia  . Maka  ,  barang siapa   yang  mengikutiku  ,  sesungguhnya   orang  itu  termasuk  golonganku ,  dan  barang  siapa yang  medurhakaiku , maka  sesunggunya  Engkau  Maha  Pengampun  dan  Maha  Penyayang.

Ya, Tuhan  kami, sesungguhnya  aku  telah  menempatkan  sebagai  keturunanku     di lembah  yang  tidak  mempunyai  tanaman  didekat  Bayt-al-Muharam  milik -Mu. Ya Tuhan  kami  , aku  bermaksud  agar  mereka  mendirikan  salat.  Maka  ,  jadikanlah  hati  sebagian  manusia   condong kepada  mereka ,dan  berilah  mereka  rejeki  yang  berupa  buah-buahan  agar  mereka  bersyukur.

Segala  puji  kepunyaan  Allah yang  telah  menganugerahkan  kepadaku  di hari  tuaku    berupa  anak  yaitu  Ismail  dan Ishak  sesungguhnya  Tuhanku  benar-benar  mendengarkan.

Ya  Tuham  kami, ampunilah  diriku  dan  kedua orang tuaku dan  semua orang-orang mukmin  pada  saat  terjadinya hisab.”

Ketika nabi Ibrahim a.s. mendapat  wahyu  untuk  mengorbankan  anaknya   sebagai  wujud  keimanannya .  Pelajaran  apa  yang  dapat  dipetik  dari  kisah  tersebut ?   Kecintaan  kepada  Tuhan  tidak   bisa  disepadankan  dengan  kecintaan  kepada  anak .  Untuk  itu  nabi Ibrahim  di uji  keimanannya.  Ternyata  nabi  Ibrahim  memilih  kecintaan  terhadap  Tuhan  itu  nomor  wahid !. Kecintaan  kepada  Tuhan  saja.  Bapak  dan anaknya  sama-sama  berserah  diri  kepada  Tuhan .  Ibrahim  dan  anaknya  telah  melucuti  hawa  nafsunya  . Inilah  makna  pengorbanan  yang  sebenarnya.

Kecintaan  kepada  Tuhan  membuat  Ibrahim  sebagai  manusia  yang  diberi  gelar  khalilullah, kekasih  Allah  . Sebuah  kecintaan  puncak. Dan  kecintaannya inilah  yang  membuatnya  sangat  kasih  kepada  segenap  umat  manusia . Orang  yang  mendurhakainya  tidaklah  dikutuk  dengan  sumpah  serapah  . Oleh nabi Ibrahim , mereka  yang  mendurhakainya  itu  diserahkanya  kepada  Tuhan,  karena  sesungguhnya  Tuhan  itu  Maha  Pengampun  dan  Maha  Penyayang.


Related posts:

  1. Perahu Nabi Nuh Ditemukan di Turki ?
  2. SANGAT GAGAH DAN INDAH
  del.icio.us this!

2 Responses so far »

  1. 1

    suwung said,

    November 17, 2009 @ 2:11 pm

    subhanallah

  2. 2

    maria said,

    November 17, 2009 @ 2:43 pm

    trima kasih sobat, kalau boleh ada link antara blog kita . suwun

Comment RSS · TrackBack URI

Say your words

CAPTCHA Image CAPTCHA Audio
Refresh Image